Berusia 400 Tahun! Hiu Ini Disebut Hidup Sejak Era Shakespeare Kini Menjadi Hewan Langka

Sebagian hiu Greenland yang masih berenang di lautan saat ini kemungkinan telah hidup sejak masa William Shakespeare.

Advertisement
Your Ad Could Be Here
728×90 — Responsive Leaderboard

Novatheme.com, Nuuk – Sebagian hiu Greenland yang masih berenang di lautan saat ini kemungkinan telah hidup sejak masa William Shakespeare. Dengan jantung yang terus berdetak selama berabad-abad dan penglihatan yang tetap berfungsi meski usianya sangat tua, spesies penghuni laut dalam ini menjadi salah satu teka-teki terbesar dalam dunia biologi.

Dikutip dari BBC, Sabtu (25/7/2026), pada April 2026, sekelompok peneliti dan relawan menemukan seekor hiu Greenland mati terdampar di pesisir County Sligo, Irlandia. Penemuan itu langsung menarik perhatian karena merupakan kasus pertama hiu Greenland yang terdampar di wilayah tersebut.

Hiu berwarna abu-abu kecokelatan dengan panjang sekitar tiga meter itu diperkirakan telah berusia lebih dari 150 tahun. Artinya, hewan tersebut lahir pada masa Ratu Victoria dan Presiden Amerika Serikat Abraham Lincoln, ketika kapal layar masih mendominasi pelayaran dunia dan mobil bahkan belum ditemukan.

Namun bagi hiu Greenland, usia itu justru tergolong muda.

“Sayang sekali. Hiu ini membutuhkan sekitar 150 tahun untuk mencapai usia reproduksi, saat ia akhirnya bisa berkontribusi mempertahankan populasi spesiesnya. Bisa jadi ia belum sempat melakukannya,” kata Ahli Biologi Laut dari Irish Whale and Dolphin Group, Emilie De Loose.

Hiu Greenland dikenal sebagai vertebrata dengan usia terpanjang di dunia. Spesies ini diperkirakan mampu hidup hingga sekitar 400 tahun. Bahkan, beberapa penelitian memperkirakan rentang hidupnya bisa mencapai 300 hingga 500 tahun.

Artinya, sebagian hiu Greenland yang masih hidup saat ini mungkin sudah ada ketika Shakespeare masih menulis karya-karyanya.

“Kami semua benar-benar terpukau. Sulit membayangkan berapa lama hewan ini hidup dan apa saja yang mungkin telah disaksikannya,” ujar De Loose.

Advertisement
Your Ad Could Be Here
728×90 — Responsive Leaderboard

Meski kematian hiu tersebut menjadi kehilangan bagi spesiesnya, bangkai yang terdampar justru memberikan kesempatan langka bagi para ilmuwan untuk mempelajari hewan yang selama ini masih diselimuti banyak misteri.

“Ada hubungan yang sangat dekat ketika kita mempelajari hewan yang sudah mati, karena justru dari situlah kita bisa benar-benar mengenal spesies tersebut,” kata Peneliti Ekologi Laut University College Cork, Jasmine Stavenow Jerremalm, yang ikut melakukan nekropsi terhadap hiu tersebut.

“Hewan yang mati dapat memberi tahu kita banyak hal tentang kehidupan mereka,” lanjut dia.

Tantangan pertama adalah memindahkan bangkai hiu ke laboratorium. Hiu Greenland termasuk salah satu hiu terbesar di dunia dengan panjang yang bisa mencapai lima meter. Bangkai yang ditemukan di Irlandia memiliki bobot lebih dari 200 kilogram.

Untuk mencegah tubuhnya dirusak burung camar dan satwa lain, para peneliti menutup bangkai tersebut dengan rumput laut sebelum akhirnya diangkut menggunakan derek ke laboratorium veteriner regional di bawah koordinasi National Museum of Ireland.

Sehari kemudian, para peneliti dari berbagai institusi mulai melakukan nekropsi dengan mengenakan masker, sarung tangan, dan pakaian pelindung.

“Ketika berhadapan dengan hewan yang mungkin telah hidup ratusan tahun, kita tidak tahu apa yang ada di dalam tubuhnya. Karena itu, prosedur keselamatan harus diterapkan dengan ketat,” ujar Stavenow Jerremalm.

Menurut dia, bakteri atau virus yang sangat tua mungkin saja masih berada di dalam tubuh hewan tersebut sehingga seluruh proses harus dilakukan dengan sangat hati-hati.

Advertisement
Your Ad Could Be Here
728×90 — Responsive Leaderboard

Tinggalkan Komentar